Masyarakat Rancagoong Siaga Banjir
Cianjur – Dalam Undang Undang No.
27 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana di jelaskan bahwa wilayah Negara
Kesatuan Republik Indonesia memiliki kondisi geografis, biologis, hhidrologis,
dan demografis yang emungkinkan terjadinya bencana, baik yag disebabkan faktor
alam, faktor noalam, maupun faktor manusia yang menyebabkan timbulnya korban
jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis
yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembagunan sosial.
Cianjur merupakan kota kabupate
yang memiliki indeks resiko bencana tingi di Indonesia. Hal ini dibuktikan
dengan cianjur memiliki 9 potensi ancaman bencana sesuai dengan lokasi
geografisnya. Dan akhir – akhir ini frekuensi curah hujan kabupaten ciajur
meningkat yang mengakibatkan beberapa tempat engalami bencana banjir.Praktikum III kali ini praktikan
di tempatkan di wilayah kabupaten cianjur khususnya di Desa Rancagoong. Pada
tanggal 19 februari 2018 praktikan bersama masyarakat mendiskusikan terkait
permasalahan yang ada di desa rancagoong dan ditemukan salah satu permasalahan
yang termasuk prioritas yang harus segera ditangani adalah bencana banjir di
kapmpung pasir hayam RW 03 Desa Rancagooong Kecamatan Cilaku Kabupaten Cianjur.
Pada tahun 2005 terjadi bencana
banjir yang merendam 21 rumah di sekitar bantaran sugai cisarua, kemudian pada
tahun 2016 terjadi banjir kembali yang merusak tanggal di bataran sungai
sehingga pada tahun 2017 terjadilah banjir yang mengakibatkan rusaknya satu
rumah yang berada di bantaran sungai dan ketika praktikan melakukan observasi
diketahui terdapat dua rumah yang rawan yang dibangun di daerah bantaran
sungai. Dari hasil tersebut praktikan mengambil focus permasalahan banjir untuk
segera ditangani.Selanjutnya, praktikan bersama
masyarakat mengidentifikasi masalah, potensi dan sumber terkait permaslaahan
banjir di Kp. Pasir Hayam melalui rembug warga. Kegiatan tersebut dilakukan
pada 3 Maret 2018 yang diikuti oleh masyarakat RW 03 di mushola RT 01 RW 03.
Dari kegiatan tersebut dilanjutkan dengan kegiatan perencaan yang dilakukan
pada tanggal 8 Maret 2018 yag mengahasilkan rencana kegiatan yang dilakukan dan
adanya pembentukan TKM (Tim Kerja Masyarakat).TKM ini dibentuk dengan tujuan
kegiatan yang akan dilakukan berasal dari masyarakat untuk masyarakat dan
dilaksanakan oleh masyarakat. Kegiatan yag akan dilakukan yaitu adanya
penyuluhan sosial terkait penanggulangan bencana banjir berbasis masyarakat,
pemetaan daerah rawan bencana di kp. Pasir hayam bersama tim kerja masyarakat,
pembuatan dan pemasangan jalur evakuasi, dan terakhir adanya kegiatan kerja
bakti sekaigus pembuatan lubang biopori dan tanggul.
Kegiatan dimulai dengan adanya penyuluhan sosial
tentang penanggulangan bencana banjir berbasis masyarakat oleh Badan
Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) pada tanggal 16 Maret 2018 pada pukul
13.00 – 16.00 ang bertempat di Mushola RT 01 RW 03. Hasil dari kegiatan ini
adalah masyarakat menajdi tahu bagaimana cara mencegah dan menaggulangi bencana
banjir.
Kegiatan selanjutnya yaitu pemetaan daerah rawan bencana di kampung Pasir Hayam bersama TKM. Kegiatan ini dimulai dari pukul 08.00 – 11.00 WIB. Hasil dari kegiatan ini adalah penentuan jalur evakuasi yang akan di pasang dan titik pembuatan daerah resapan atau lubang biopori.
Kegiatan selanjutnya yaitu pemetaan daerah rawan bencana di kampung Pasir Hayam bersama TKM. Kegiatan ini dimulai dari pukul 08.00 – 11.00 WIB. Hasil dari kegiatan ini adalah penentuan jalur evakuasi yang akan di pasang dan titik pembuatan daerah resapan atau lubang biopori.
Menindak lanjuti kegiatan
sebelumnya pada tanggal 25 Maret 2018 adanya pembuatan dan pemasanagan jalur
evakuasi. Tujuan dai kegiatan ini adalah penentuan lokasi aman pada saat
bencana banjir terjadi ini termasuk bagian dari tahap kesiapsiagaan masyarakat. Kegiatan selanjutnya yaitu kerja
bakti untuk membersihkan saluran air bersama warga masyarakat dhadiri oleh
kepada desa Rancagoong bapak Dede Ridwan sekaligus simbolis pembuatan lubang
biopori atau daerah resapan. Setelah kegiatan tersebut dilajutkan dengan
pembuatan tanggul untuk mengurangi volume debit air yang mengalir di dekat
rumah yang rawan. Dan terakhir ditutup dengan makan – makan dan pembagian doorprize. (Azis Wahyono)
Komentar
Posting Komentar